Timnas Era Baru di Ajang FIFA Series 2026: Jakarta, Tanpa Alibi

8 hours ago 3

Indonesia tidak pernah benar-benar pergi dari sepak bola dunia. Ia hanya sering datang sebentar—lalu pulang sebelum sempat dikenali.

Pada FIFA World Youth Championship 1979, kita membuka pintu bagi dunia. Stadion penuh, bendera berkibar, dan seorang anak muda bernama Diego Maradona berlari dengan bola seolah itu bagian dari tubuhnya sendiri. Kita menonton dengan kagum, dan tanpa sadar, sedang belajar tentang jarak.

Bukan jarak geografis. Akan tetapi jarak kualitas, keberanian, dan cara memahami permainan.

Sejak saat itu, Indonesia seperti tahu arah, tapi belum tahu bagaimana mencapainya.

Empat dekade kemudian, kita hampir kembali ke panggung melalui FIFA U-20 World Cup 2023. Semua tampak siap. Rumput dirawat. Lampu dinyalakan. Harapan dipasang tinggi.

Lalu semuanya berhenti.

Bukan karena kita kalah bermain. Tapi karena kita belum selesai dengan diri kita sendiri.

Pelatih Baru Timnas Indonesia, John Herdman, resmi melengkapi jajaran staf kepelatihannya dengan menghadirkan Simon Grayson sebagai asisten pelatih menjelang FIFA Series 2026 pada akhir Maret 2026.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sering Dianggap Netral

Sepak bola, yang sering kita anggap netral, ternyata membawa seluruh beban dunia: politik, sikap, dan konsistensi. Kita tersandung di sana—di tempat yang tidak terlihat di papan skor.

Namun pintu tidak sepenuhnya tertutup.Melalui FIFA U-17 World Cup 2023, kita diberi kesempatan kedua.

Lebih kecil. Lebih sunyi.

Tapi justru di situlah kepercayaan diuji: apakah kita bisa menjaga sesuatu—tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

FIFA Series di Jakarta

Dan kini, Maret 2026.

Tidak ada sorotan besar saat FIFA Series 2026 digelar di Jakarta. Tidak ada narasi dunia yang menunggu.

Hanya empat tim. Dua pertandingan. Dan satu cermin yang tidak bisa kita hindari.

Tim yang Sedang Dibangun, Bukan Dipamerkan

Di bawah John Herdman, Indonesia tidak sedang mencari kemenangan cepat. Ia sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih sulit: bagaimana menjadi tim yang utuh.

Latihan-latihan itu mungkin terlihat biasa.Umpan pendek. Pergerakan tanpa bola. Jarak antar lini yang dijaga rapat.

Tapi di situlah sebenarnya perubahan terjadi.

Sepak bola kita perlahan bergeser:

  • Dari reaksi menjadi antisipasi
  • Dari individu menjadi sistem
  • Dari semangat menjadi struktur

Elkan Baggott Bukan Sekadar Bek

Nama-nama seperti Elkan Baggott berdiri bukan hanya sebagai bek—tapi sebagai titik referensi: di mana garis pertahanan dimulai, dan bagaimana tim menjaga bentuknya saat kehilangan bola.

Namun, ada satu hal yang belum bisa disembunyikan.

Kedalaman skuad kita belum sepenuhnya jujur.

Kita punya banyak pilihan, ya. Namun, belum semua pilihan bisa dipercaya dalam tekanan yang sama.

Saat pemain utama turun, ritme sering ikut turun.Saat rotasi terjadi, organisasi kadang ikut goyah.

Artinya, kita sedang membanguntapi belum selesai.

Pertandingan Pertama: Melawan Kecepatan yang Tidak Menunggu

Melawan Saint Kitts & Nevis bukan tentang siapa yang lebih kuat. Ini tentang siapa yang lebih siap dalam satu detik yang sering kita abaikan.

Indonesia akan menguasai bola. Umpan demi umpan mengalir, seolah permainan berada dalam kendali.

Lalu satu sentuhan terlalu lama.Satu celah terbuka.

Dan tiba-tiba, lapangan terasa terlalu luas.

Seseorang berlari. Bek kita berbalik. Terlambat setengah langkah.

Dalam sepak bola modern, setengah langkah itu cukup untuk mengubah segalanya.

Jika kita kebobolan di situ, itu bukan karena lawan lebih hebat. Itu karena kita belum sepenuhnya hadir di setiap momen.

Kemungkinan Final: Sepak Bola yang Tidak Tergesa

Jika bertemu Bulgaria, permainan akan melambat—tapi justru menjadi lebih berat.

Tidak ada sprint berlebihan. Tidak ada kepanikan.

Hanya posisi yang tepat. Jarak yang dijaga. Dan kesabaran yang menguji.

Bulgaria tidak akan mengejar bola seperti kita. Mereka akan menunggu kita salah.

Dan pertanyaannya menjadi lebih sunyi: apakah kita cukup sabar untuk tidak membuat kesalahan?

Karena di level ini, kesalahan kecil tidak lagi terasa kecil.

Ia menjadi peluang. Dan peluang, di tangan tim yang disiplin, hampir selalu berakhir menjadi gol.

Tentang Lawan yang Sering Diremehkan

Kepulauan Solomon adalah jenis tim yang tidak membawa beban. Dan justru itu yang membuat mereka berbahaya.

Mereka bermain tanpa ketakutan. Tanpa tekanan untuk sempurna.

Sementara kita—sering terlalu sadar sedang dinilai.

Di titik ini, pertandingan bukan lagi soal taktik. Tapi soal siapa yang lebih ringan membawa pikirannya sendiri.

Jakarta dan Kejujuran yang Tidak Bisa Ditunda

Tidak ada Maradona di 2026.Tidak ada sejarah besar yang sedang ditulis.

Tapi mungkin, justru ini lebih penting.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kita tidak punya alasan.

Tidak ada tekanan politik global. Tidak ada ekspektasi berlebihan. Tidak ada panggung yang terlalu besar untuk disalahkan.

Hanya ada pertandingan dan tentunya diri kita sendiri.

Indonesia sudah lama ingin menjadi bagian dari sepak bola dunia. Kita sudah membangun stadion. Mengganti pelatih. Mengundang lawan.

Tapi semua itu belum cukup jika kita belum siap menerima satu hal yang paling sederhana—dan paling sulit:   melihat diri sendiri, apa adanya.

Dan di Jakarta, Maret ini, kita akan melihatnya.

Tanpa alibi.

Azis Subekti

*)Penulis pemerhati sepak bola yang juga anggota DPR RI Partai Gerindra

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Ario Yosia
Read Entire Article
Ilmu Pengetahuan | | | |